Fandom

Scratchpad

Mai (legion)

215,866pages on
this wiki
Add New Page
Discuss this page0 Share

Ad blocker interference detected!


Wikia is a free-to-use site that makes money from advertising. We have a modified experience for viewers using ad blockers

Wikia is not accessible if you’ve made further modifications. Remove the custom ad blocker rule(s) and the page will load as expected.


Mai is the first republic lasting from year 75P to 136 years later, year 35M. It is founded by Dama through a bloodless revolution. It has a reactionary ideological basis opposing the philosophy of sains. Currently, the word Mai is usually referring to the Mai movement.

History

It quickly gain popularity from the majority of people who are sick with the inhumane system. 25 years later, Pera made a second Mai revolution after a secret planned assassination of Mai. The republic of Mai continues however most of its policy are reverted. Yet the perspective of the people has changed. After a series successful campaign, the internal corrupt bureaucracy ruined the republic, resulting in independence movement by some of its parts.

Side Story 35P

This is the story that appeared as a side story.

Sekilas Sejarah:

Tahun 35 Pyro, tiga tahun setelah Faroltur menjajah Mala dan Mila, 20 tahun sejak Zaman Berperang di mulai, 7 tahun setelah Faroltur menguasai seluruh Farol, beberapa bulan sebelum Tennah merebut Torgaztur dari Farahtur di tahun yang sama. Di sebuah desa kecil kira-kira satu sampai dua hari perjalanan sebelah selatan Mala. Kalau melihat ke arah selatan, akan terlihat kehijauan hutan Sedna dan di baliknya ada gunung tertinggi di daratan Matala, gunung Sedna. Sedikit ke arah barat daya akan terlihat puncak Bal yang tertutup langit. Tidak ada seorang pun yang masih mengingat nama asli desa ini yang sekarang telah dirubah menjadi Sekolah #29 oleh tentara Faroltur. Rumah yang paling besar yang terbuat dari kayu yang tadinya merupakan semacam kuil, dijadikan tempat tinggal para prajurit penjajah, setelah itu didirikan pagar-pagar kayu setinggi satu setengah tinggi orang dewasa disekeliling sekolah. Anak-anak tinggal di tenda sekedarnya yang rubuh setiap ada angin kencang dan tidak dapat menahan hujan, dan tenda ini disebut rumah. Sedangkan rumah-rumah aslinya dijadikan gudang dan pabrik bengkel. Semua orang dewasa yang dulunya tinggal di desa ini telah dipindahkan. Hanya anak-anak di bawah 15 tahun dari seluruh desa-desa di seluruh penjuru Mala dikumpulkan di sini dan di sekolah-sekolah lainya walaupun terkadang ada anak-anak dari tempat lain juga. Mereka semua dijadikan budak. Sumalato adalah bocah lelaki berumur 10 tahun dengan kakak perempuan berumur 12 tahun yang bernama Malawati.

Sewaktu subuh hendak menjelang, udara dingin dan basah, tanah berembun dan udara berkabut, Sumalato bangun dari tidurnya dan langsung terburu-buru untuk bebaris. Ada pengunguman. Di depan barisan ada penjajah-penjajah dari Faroltur, mereka semua tersenyum. Tetapi di sekolah mereka tidak dipanggil penjajah maupun perajurit, melainkan ayah. Ada banyak tiang gantungan. Dan di salah satu dari tiang gantungan itu ada lelaki berumur sekitar enam tahun. Badannya hancur penuh dengan bilur. Dia berdiri bergetar tanpa suara, bertopang hanya pada satu kaki seolah-olah kaki lainya telah lumpuh. Nafasnya pendek-pendek seperti tercekik, dadanya telah penuh dengan udara. Otot-ototnya kaku dan kejang. Badanya basah kuyup dengan keringat.

Salah seorang ayah mengatakan bahwah bocah ini adalah penghianat. Mata Sumalato membelak, jantungnya melompat keluar dari tenggorokan dan perutnya berputar. Sang ayah lalu berkata bahwah penghianat itu akan dibenarkan dan ia menjadi sedikit lebih tenang. Nama Sumalato dipanggil maka ia pun maju kedepan setengah berlari. (kamera langsung FPS). Tali gantungan dikalungkan ke leher penghianat oleh ayah. Seperti melihat sesuatu yang mengerikan dan tabu, Sumalato membuang muka dan menunduk kebawah, memakukan pandanganya ke jari-jari kakinya sendiri. Tetapi di pikiranya masih terlihat bekas tali di leher bocah, seolah-olah dia sudah digantung. Ayah memberi Sumalato sebuah palu seraya berkata, "ayo jadi teladan."

Sumalato menyambar palu tersebut dengan terburu-buru, seperti sudah tidak sabar ingin menghabisi nyawa bocah penghianat. Tiba-tiba terdengar suara seduhan tangis yang pelan dari bocah yang umurnya tinggal beberapa tarikan nafas, memecah keheningan pagi yang tadinya hanya dikuasai oleh pidato ayah. Sumalato maju menghampiri bocah tersebut, tidak berani menatap wajahnya, ia hanya melihat kakinya, sepertinya ada kekuatan yang lebih menakutkan dari ayah yang membuat ia tidak berani mendongak. Ia menarik nafas yang dalam dan memalu papan pijakanya yang jatuh dalam sekali hantam, ia membuang nafas lega. Terdengar suara tercekik yang menakutkan seperti jerit setan. Tetapi tidak ada satu anak pun dalam barisan maupun satu ayah pun yang merasa takut atau terganggu, mereka semua merasa bahwah pagi ini tidak terlalu berbeda dengan pagi-pagi lainya. Tidak hanya itu, ada berbagai hal-hal yang lebih gawat yang mengisi kepala dan dada mereka, nyawa muka baru tidak ada harganya. Sumalato memandang kosong ke kaki yang menendang-nendang, semua kekhawatiranya telah sirna. Perlu sektiar lima menit baru bocah itu kehabisan nafas dan tenaga walaupun jantungnya masih terus berpacu. Ayah mengambil palu dari Sumalato dan menyuruhnya menggali lubang kubur.

Dari pagi sampai hingga petang, ia menggali lubang sedalam dirinya dengan tangan dan kuku, sementara anak-anak yang lain bekerja membanting tulang. Sekitar tengah hari, ada suara anak kecil berteriak "Itu rotiku!" setelah itu terdengar suara tangis. Beberapa saat kemudian, ada anak perempuan yang menghampiri Sumalato, melempar roti ke lubang dan segera pergi tanpa berbicara sepatah pun, anak itu dengan perempuan-perempuan yang lainya pergi tidur. Ia memakan roti yang barusan diberi yang telah bercampur tanah dengan lahap dan kembail menggali. Setelah selesai menggali kubur, mayat bocah itu dilempar kedalam lubang oleh anak-anak yang lain. Sumalato berupaya untuk tidak melihat mayat bocah yang telah dibunuh oleh tanganya sendiri, tetapi pada akhirnya, ia memperhatikanya juga. Mayatnya sudah kaku, kulitnya pucat dan unjung-ujung jarinya biru. Oleh anak lain ia dibantu untuk keluar dari lubang kubur. Dari luar lubang, ia melihat ke barat dan terlihatlah tiang cahaya di atas matahari yang hendak terbenam. Secepat mungkin ia mengubur anak itu dan berlari-lari ke rumah tendanya. Ketika sampai, matahari sudah hampir tidak terlihat lagi. Ia tergesa-gesa membangunkan kakak perempuanya, Malawati, dari tidur. "Ayo bangun, siap kerja, sebentar lagi gelap!"

"Engga, malas, letih, sakit." Balas kakaknya.

"Tadi pagi ada yang digantung lagi, aku yang kubur lagi, sudah cepat sana!" Mendengar ini Malawati pun bangun dan duduk.

"Aneh sekali, adik saya kenapa pengecut?" Setelah berkata demikian ia bangkit berdiri dan berjalan sampai hilang ke dalam rumah kayu.

Setelah kakaknya tidak terlihat lagi, Sumalato bergegas ke tempat makan dan langsung masuk ke tengah-tengah antrian, di depan orang yang dikenalnya dan berkata ke orang di belakangnya yang memberikanya tempat untuk menyelak. "Alam, tadi pagi apa yang terjadi? Ada apa dengan bocah itu?"

Alam menjawab, "bocah baru dari Mila, mengigau di malam, berisik, lebih baik mati seperti sekarang."

Mendengar itu Sumalato tertawa kecil. "Orang Mila memang pengecut, banyak-banyak yang mati juga tidak apa-apa, enaknya jatuh di saya, tinggal mengubur, tidak usah kerja." Ia melanjutkan setengah berbisik, "Saya sudah takut sekali ketika dibilang penghianat oleh ayah, saya pikir ada yang bocor. Kamu juga harus simpan tenaga untuk besok, ingat, besok panas!"

Alam langsung menegur sambil menyikut, "Jangan keras-keras."

Besok paginya, sekitar subuh juga, mereka semua baris lagi. Hari ini tidak ada orang di tiang mana pun, tidak ada senyuman di wajah siapa pun. Walau udara tidak sedingin kemarin, semua anak-anak menggigil. Ayah-ayah belum berkata apa-apa, tidak ada bilur di badan siapa pun, tetapi semua orang ketakutan seperti bocah kemarin. Pagi ini mencekam janggal. Walaupun keheningan ini memperedup hati, semua anak berusaha mejaga keheningan ini, lebih dari itu, mereka berdoa dalam hati agar keheningan ini jangan sampai pecah sampai petang. Tetapi itu tidak mungkin, karena ayah tiba-tiba berkata, dengan suara yang tenang dan pelan namun jelas menembus kabut, bahwah ada dua puluh anak yang kabur. Ketika mendengar itu, semua anak dalam barisan langsung lemas, ingin menangis dalam hati, berharap-harap agar pada saat itu juga jiwa dan rohnya di cabut dari tubuh, karena di depan mereka terlihat ketakutan bagai api asing yang terbayangkan. Sang ayah berkata, dengan nada yang tenang tetapi tersirat kemarahan dan kebencian, bahwah tidak akan ada yang makan atau minum atau keluar dari barisan sampai kedua puluh orang ini ditemukan. Ayah menambahkan, "sampai sehari, seminggu atau setahun ayah tidak peduli." Setelah mendengar ini semua anak menjadi tenang. Sehari, hanya itu yang mereka butuhkan.

Menjelang tengah hari, anak-anak menjadi semakin tenang, tetapi ayah-ayah menjadi gelisah, mereka mulai menyiksa anak-anak yang kecil, berharap-harap mulut mereka terbuka. Mereka menggunakan peralatan bengkel dan air yang penuh dengan roh api yang dapat menghanguskan daging menjadi arang, tulang menjadi bara. Para ayah berpikir, bahwah mulut anak kecil akan lebih mudah dibuka, padahal anak-anak itu tidak tahu-menahu. Mereka juga berpikir kalau anak-anak yang telah besar akan beriba pada anak-anak kecil ini dan membuka mulut, tetapi para ayah lupa kalau nurani anak-anak dalam sekolah telah dihancurkan oleh mereka para penjajah sendiri karena itulah tujuan dari sekolah. Sebuah generasi tanpa nurani tidak akan bisa merdeka, itulah paham mereka dan itulah tujuan sekolah. Mereka tidak berani menyiksa anak-anak yang sudah besar karena takut mereka akan melawan. Hari ini pasukan ayah sedang sedikit, bantuan tambahan dari Mala belum datang sampai beberapa hari lagi. Menjelang petang, semua wanita dipanggil keluar dari barisan, untuk tetap bekerja. Malawati sengaja berjalan di dekat adiknya sambil berbisik ketika meninggalkan barisan, "lihat kakakmu, pengecut kamu." Setelah itu Malwati hilang bersama wanita-wanita yang lainya, masuk kedalam rumah kayu.

Malam pun datang dan dunia menjadi gelap, langit berawan, tidak ada bintang, hanya ada bulan. Pelan-pelan cahaya bulan pun mulai ditelan oleh mendung. Dan seluruh malam menjadi diselimuti oleh gelap gulita, tangan sendiri pun tidak terlihat. Tiba-tiba Ada cahaya menyilaukan dari kejauhan, seperti mathari siang, dan ada suara yang menggetarkan bumi. Dari rumah kayu yang beberapa saat yang lalu dimasuki oleh Malawati, ada sebuah ledakan terjadi . Pada saat yang bersamaan, semua rumah gedung dan tenda terbakar, pagar-pagar ambruk rata dengan tanah. Kelihatanya api dari dunia lain telah datang. Ada banyak pekikan kesakitan, laki-laki dan perempuan, seperti hantu-hantu penasaran. Bau wangi bercampur hangus dari lemak yang terbakar pun tercium, begitu pula bau minyak dan bau puncak api (sulfur). Tetapi tidak ada satupun dari hal-hal ini yang mengejutkan anak-anak besar.

Semua anak yang masih tertinggal di barisan lari keluar pagar. Anak-anak kecil yang siangnya disiksa ditinggalkan, sedangkan yang lainya secara naluri lari mengikuti anak-anak yang sudah besar. Ada dua atau tiga anak yang paling tua yang menunggu di luar pagar. Mereka membawa batu atau kayu untuk mematahkan kaki anak-anak yang menangis agar mereka tidak bisa ikut kabur dan membocorkan lokasi dengan suara tangis mereka. Setelah beberapa waktu yang sangat singkat, sebelum semua anak sempat melarikan diri, ketika ada beberapa ayah yang sudah siuman dari kepanikan, mereka membuang kayu dan batu dan membakar pula pagar kayu agar ayah-ayah terperangkap di dalam dan tidak dapat mengejar mereka.

Di bawah terang merah bulan sabit, terbirit-birit mereka lari ke selatan, masuk kedalam hutan. Ketika berhasil mengumpulkan semua anak yang tercerai-berai dalam pelarian, mereka duduk, mengisi nafas, menunggu pagi. Setelah pagi menyingsing, mereka terus berjalan masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan sampai pagi. Ketika mereka melihat sungai, semua anak berlomba-lomba untuk minum. Yang telah puas minum mulai makan dedaunan dan kulit pohon. Beberapa anak mulai berbicara ketika degup jantung dan nafas mereka mulai menjadi teratur. Mereka semua cemas karena mereka sekarang kehilangan arah dan rencana. Mereka bertanya-tanya dalam hati: Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kemana kita pergi? Apakah kita bisa terus hidup dari minum sungai dan makan daun dan kulit pohon? Bagaimana dengan teman-teman mereka yang duapuluh yang hilang dari subuh dan yang perempuan yang telah menajalankan rencana ini agar mereka bisa kabur? Tetapi tidak ada yang peduli dengan anak-anak kecil dan mereka yang gagal kabur keluar barisan. Tiba-tiba satu anak Mila menyuarakan pertanyaan yang paling menakutkan, yang tidak berani ditanya oleh anak-anak yang lain, yang paling besar sekalipun. "Yakin mereka tidak akan mengejar ke sini?"

Sumalato pun langsung bangkit dan berteriak untuk mengusir ketakutanya sendiri. "Tentu saja, mereka orang dari kota bunga takut dengan hutan, mereka sendiri yang bilang kalau hutan itu penuh dengan jiwa sampai tentara pun tidak berani masuk. Kamu lupa peraturan tidak boleh masuk hutan?"

"Bisa saja mereka berbohong hanya untuk menakuti kita agar kita tidak kabur seperti ini." Balas anak Mila.

Sumalato langsung mendatangi anak itu sambil berteriak. "Diam kau!" Setelah berkata demikian ia menendang leher anak Mila. "Tidak perlu berlagak pintar!"

Salah satu anak yang paling tua mengakhiri, "kita berjalan menyusuri sungai." Sampai malam mereka berjalan dan ketika gelap mereka tidur. Tengah malam ada banyak suara ledakan seperti petasan, Sumalato berpikir ia sedang bermimpi. Ketika dia mendengar teriakan anak-anak dia membuka mata dan menemukan bala tentara yang mengejar mereka ke hutan. Ia pun langsung berlari tanpa arah sampai dia tidak kuat untuk berlari lagi dan suara tentara sudah tidak lagi terdengar. Ia pun jatuh tertidur melanjuti tidurnya. Paginya ia bangun dan menemukan dirinya sendirian, jauh dari sungai. Ia telah kehilangan arah. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan dan ketika mathari hampir terbenam, ia menemukan genangan air yang bercampur dengan tanah dan pasir. Sumalato takut untuk beranjak dari tempat itu, takut tidak menemukan air lagi, takut pula ketemu tentara yang mengejar. Beberapa hari berikutnya ia hanya minum dari air yang tercampur dengan tanah dan pasir, yang semakin lama semakin sedikit, dan makan dari kulit pohon. Ia takut makan dari daun lagi karena suatu hari ada daun yang rasanya membakar lidahnya dan menjadi bengkak. Besoknya ia tertangkap tentara.

Sewaktu subuh hendak menjelang, udara dingin dan basah, tanah berembun dan udara berkabut, Sumalato bangun dari tidurnya dan langsung terburu-buru untuk bebaris. Ada pengunguman. Di depan barisan ada penjajah-penjajah dari Faroltur, mereka semua tersenyum. Tetapi di sekolah mereka tidak dipanggil penjajah maupun perajurit, melainkan ayah. Ada banyak tiang gantungan. Dan di salah satu dari tiang gantungan itu ada Malawati. Badannya hancur penuh dengan bilur. Dia berdiri bergetar tanpa suara, bertopang hanya pada satu kaki yang berlumuran darah, seolah-olah kaki lainya telah lumpuh. Nafasnya pendek-pendek seperti tercekik, dadanya telah penuh dengan udara. Otot-ototnya kaku dan kejang. Badanya basah kuyup dengan keringat. Di samping barisan ada duapuluh kepala pria yang mencuri petasan besar untuk meledakkan semua rumah-rumah, gudang, pabrik dan bengkel. Ada juga sembilanbelas kepala wanita yang membakar rumah kayu serta membunuh beberapa ayah.

Sumalato mengambil palu dan menggantung kakaknya. Di tiang gantungan, Malwati berkata terpatah-patah dengan suara nenek-nenek, "kamu lelaki Mala bukan?" Ia disuru untuk memisahkan kepala kakaknya dari badanya dan ditaruh untuk melengkapi sembilanbelas kepala wanita agar menjadi duapuluh. Setelah itu ia mengubur badan kakaknya. Malamnya Sumalato menangis tanpa suara, semua anak-anak yang telah lama berada di sekolah telah belajar untuk menangis tanpa suara.

Mereka mendapat pekerjaan baru, bukan lagi kerja di bengkel dan pabrik, tetapi membuat parit di sekitar sekolah. Perlu waktu sekitar sebulan untuk selesai. Tetapi ketika pekerjaan masih setengah selesai, para anak-anak kabur lagi, mereka semua lari dipimpin oleh Sumalato. Kali ini mereka tidak berhenti, mereka maju terus ke arah selatan, menerobos hutan, melintasi sungai, mengabaikan air yang hanya ditemukan dalam sehari atau dua hari perjalanan. Mereka istirahat hanya ketika bertemu air, sekalipun mereka istirahat itu hanya untuk setengah malam. Mereka tidak peduli apa bila ada yang terpencar atau tertinggal, tujuan mereka hanya satu, terus bergerak. Pada akhirnya mereka samapi di pinggir kota Tennah.

Mereka semua tetap sembunyi dalam hutan, mengamati pedagang-pedagang yang keluar masuk ke Tennah dari jalur Bela. Pada saat itu kebetulan ada Dama yang ketika itu berumur sepuluh tahun, yang bersama teman-temanya bermain masuk ke hutan. Di dalam hutan mereka bertemu dengan Sumalato bersama dengan beberapa belas anak yang berhasil untuk tidak keluar dari rombongan selama perjalanan menembus hutan. Dama bertanya, "Kalian kenapa?"

Salah satu teman Dama yang wanita menegur, "bodoh sekali kamu, jangan ditanya. Ajak masuk kedalam tenda dulu, dan jangan ditanyai dulu mereka." Dama mengajak mereka semua untuk keluar setelah berhasil meyakinkan bahwa orang-orang dewasa di luar sana juga sama-sama membenci Faroltur. "Ayah, aku ada teman baru!"

Sepuluh tahun kemudian, Sumalato digantung sampai mati di depan gerbang kota Tennah karena membakar hidup-hidup pemilik sebuah rumah malam. Sumalato juga membakar rumah malam yang mempekerjakan wanita-wanita dari Mala itu sampai ambruk. Kebetulan anak walikota Tenna sedang berada di dalam rumah itu ketika Sumalato membakarnya dan ia ikut mati terbakar. Beberapa puluh tahun kemudian, Dama menjadi politikus. Ia mendirikan dinasi Mai yang mendasarkan pada ide-ide manusiawi. Tetapi di umur 75 Dama dibunuh oleh Pera dalam sebuah pemberontakan, dan sejak hari itu, arti kata Mai berubah. Tetapi gerakan yang dimulai oleh Dama tidak pernah selesai dan juga tidak pernah berhenti samapi hari ini.

Original

Tahun 35 Pyro, 3 tahun setelah Faroltur menjajah Mala dan Mila, 20 tahun sejak Zaman Berperang di mulai, 7 tahun setelah Faroltur menguasai seluruh Farol, beberapa bulan sebelum Tennah merebut Torgaztur dari Farahtur di tahun yang sama. Di sebuah desa kecil sebelah selatan Mala. Kira-kira 1 sampai 2 hari perjalanan. sebelah utara hutan. Nama desanya dirubah menjadi Sekolah #29. Semua orang dewasa di kosongkan dari desa ini, hanya anak2 di bawah 13 tahun dari seluruh desa di sekeliling Mala dikumpulkan di sini. Mereka di jadi kan budak. Mainca bocah lelaki umur 10 tahun dengan cici umur 12 tahun.

Pagi2 Sumalato bangun, terus bebaris. ada pengunguman. di depan barisan ada penjajah2 dari Faroltur, ada tiang gantungan dan ada lelaki umur 6 tahun, badanya ancur digebukin. terus di bilang kalau dia itu penghianat maka akan "dibenarkan". tiba2 Sumalato di panggil terus dia maju kedepan. (kamera langsung FPS). terus si penghianat di kalungin ke tali gantungan, cepet2 Sumalato nunduk kebawah, jadi keliatan kakinya doang, terus Sumalato di kasih palu, dan ada suara "ayo jadi teladan". Sumalato maju, dengan tetep ngeliatin bawah. ada suara nangis, terus dipalu papan pijakanya, tiba2 ada suara kecekek, Sumalato tetep liat bawah, jadi cuman keliatan kakinya doang nendang2. perlu sektiar 5 menit baru berenti. terus Sumalato di ambil palunya, di suru gali lubang pake tangan, terus dia gali sampe sore. soalnya di suru dalemmmm banget. terus bocah di masukin ke galian nya Sumalato, Sumalato noleh, ga mao liat mayat. terus dia di suru kubur, dia akhirnya ngeliat mayatnya, cuman keliatan dari belakang. terus di kubur, setelah selesai, matahari udah ampir terbenam, keliatan tiang cahaya, dia cepet lari ke 'rumah' bangunin cicinya (namanya: Malawati) terus bilang "ayo bangun, siap kerja, bentar lagi gelap". terus cici nya bilang, "engga mao, males, cape, sakit" , terus dia bilang lagi "tadi pagi ada yang di gantung lagi, aku yang kubur lagi, cepet gih sana" terus cicinya bilang. "aneh deh punya ade kok pengecut" terus dia bangun, jalan, hilang di kejauhan. terus si Sumalato ke tempat antrian ngambil makan, terus nanya ke orang belakang namanya Alam, "eh napa sih, tu bocah tadi pagi?" terus dijawab oleh Alam "anak baru dari Mila, kalo malem ngigo, berisik, bagus mati" terus Sumalato bilang "hahhaa orang Mila mah emang pengecut. banayak2 deh, enak ngubur ga gitu cape. gw udah takut bocor ajah di bilang penghianat. lu juga jangan cape2 besok, inget besok panas" di bales "hush jangan keras2".

speed forward ke besok paginya. baris lagi, di bilang ada 20 orang kabur, di bilang hari ini ga bakal dapet makan, terus di suru tetep baris sampe ada yang ngaku ato ngebocorin ilang kemana. sampe gelap, ga ada yang ngaku, yang ilang nga ada yang ketemu. terus tiba2 yang cewe di panggil semua, di suru tetep kerja malem ini. pas keluar barisan Malawati jalan deket Sumalato "liat cici nih bentar lagi" terus Malawati masuk ke gedung. ga lama ada ledakan gede dari gedung yang Malawati masukin. pager ambruk semua, semua rumah tiba2 kebakar. ada suara teriakan kesakitan yang super serem dan kenceng. semua yang ada di barisan langsung lari keluar pager, ke arah selatan masuk hutan. setelah itu mereka lari terus sampe kecapaian. mereka nunggu pagi, setelah pagi jalan terus sampe ketemu sungai setelah itu, mereka berenti di sungai, makan daun dan kulit pohon, terus berdebat tentang next step dan gimana sama temen2 mereka yang 20 itu dan yang perempuan. ada yang nanya "yakin mereka ga ngejer ke sini" terus Sumalato jawab "iya lah, mereka orang dari kota bunga, mereka sendiri yang bilang hutan itu serem, tentara aja ga berani masuk, makanya di buat peraturan ga boleh masuk hutan kan" terus di bales lagi "bisa aja mereka bohong cuman buat nakut2in kita doang" terus Sumalato bentak "diem deh" terus Sumalato samperin tu orang yang ngomong terus di tendang kepalanya terus ngomong lagi "ga usah sok tau deh". (kalau lu sadar, itu adalah satu2nya tindak kekerasan yang di gambarkan di cerita ini) terus malemnya tiba2 tempat mereka tidur dihutan ketauan sama tentara Faroltur. Jadi tentaranya sampe ngejar ke hutan, mereka lari mencar, Sumalato juga lari mencar sampe dia ga kuat lari lagi terus tidur lagi. pagi2 dia sendirian, ga berani nyari yang lain takut ketemu tentara. idup cuman minum dari air kecampur tanah dan pasir ama makan daun ama kulit pohon. beberapa hari lagi, Sumalato ketangkep tentara. terus sama persis seperti awal cerita, ada baris-berbaris ada pengunguman ada penghianat. bedanya ada 20 kepala cowo yang nyolong bom dan ngebakar terus ada 20 kepala cewe ama yang mao di gantung itu cicinya. terus Sumalato gantung dan ngubur cicinya. last work cicinya "kamu cowo mala kan?" . malem nya baru nangis tapi ga keluar suara soalnya udah adaptasi.

beberapa minggu lagi ada pemeberontakan lagi, kali ini, Sumalato lagi yang mimpin, mereka kabur kehutan, tapi lari terus ke selatan, engga berenti, (cuman buat istirahat), sampe ketemu kota Tennah. di sana orang yang pertama kali nemuin mereka itu Dama ama temen nya. Dama waktu ini umur 10 tahun, sama kaya Sumalato. mereka sengaja ga berani keluar kalo ada orang dewasa. Dama nanya "kamu kenapa" terus temenya Dama yang cewe bilang "bego yah nanya lagi, suru masuk rumah dulu dong. terus jangan2 di tanya2 lagi, jangan di suru2 inget." 10 tahun kemudian, Sumalato digantung sampe mati di gerbang kota Tennah gara2 ngebakar idup2 bos rumah bordil di dalam rumah bordilnya, rumah bordilnya ambruk kebakar, kebetulan anak walikota Tenna ada di dalam rumah bordil itu ikut mati kebakar. Dama mendirikan dinasti mai yang sangat manusiawi, tetapi di umur 75, Dama dibunuh oleh Pera dan arti dari Mai berubah. tetapi gerakan yang dimulai Dama tidak pernah selesai dan juga tidak pernah musnah sampai hari ini.

Ideas

Because it is a reactionary movement, we must understand the concept of sains.

A number of notable ideas brought by Mai:

  • The responsibility of the nation or state or tribe to give physical protection and legal aid to its citizen.
  • Not exploiting the conquered
  • Freedom for citizen, freedom from slavery, freedom of speech and expression, participate in politics, freedom of press and from censorship , freedom to trade and associate, thought and intellectual pursuit, access of information, freedom to criticize and freedom to commit suicide.

Legacy

The ideas of Mai, in one way or another, are incorporated and practiced, although the extent it is applied differ from one community to the next, through most of chiefdom, city-state and kingdoms of the Archipelago.

Also on Fandom

Random wikia